Senja hanya diam. Selalu diam. Aku benci
diam. Aku benci saat kau acuhkan aku. Senja apa kau tak mengerti hatiku gelisah
saat sajak indahmu dipenuhi kata senja. Aku cemburu dengan senja yang mengisi
setiap sisi sajakmu. Aku ingin namaku terukir di sana. Lebih tepatnya dihatimu.
Tiba-tiba bunyi bbm berdering.
“Mau tahu banget..??” Selalu saja jawaban
senja menggantung.
Aku terpaku sejenak melihat layar
handphone. Aku tahu senja itu orang spesial dalam hidupmukan! Dan butir-butir
air mata seketika meluncur deras di pipiku.
“Siapa senja..?? Ayo kasih tahu aku..??”
Aku sudah siap dengan hal terburuk dan terpahit sekalipun. Yah aku sudah
terbiasa sakit hati. Sudah sering, sudah tak asing lagi dengan makhluk itu.
Makhluk yang bernama sakit hati.
“Senja itu aku” Balasan bbm dari senja.
Aku semakin bingung. Senja itu senja,
apa maksudnya ini. Aku benar-benar tak mengerti.
“oh..!” jawabku datar.
“iyah senja itu aku, semesta yang memanggil
aku senja” balas senja.
Jadi semesta yang memanggilmu senja. Dan
kau senangkan di panggil dengan senja. Aku mengaku kalah dengan semesta yang
mampu mengalihkan semua duniamu. Aku mengaku pudar dalam gelap malam yang
pekat. Tiba-tiba saja terlintas kata-kata senja kau suka dengan semesta. Sudah
saatnya aku mundur untuk mengaggumi dirimu. Karna kau milik semesta yang mampu
memahami dirimu. Karna kau senja sedangkan aku hanya malam yang gelap tak
seberapa nilainya di bandingkan semesta. Aku kalah total.
“Senja suka yah sama semesta?” Aku
menangis, dan kau tak kan mampu mendengar tangisku. Kau tak kan tahu luka yang
semakin sakit di hati ini.
Dan nada bbm mulai berdering lagi.. “Gak..”
senja hanya membalas menggantung kembali. Selalu saja begitu, menggantung
memberi harapan yang semu.
Aku benci senja membalas dengan
kata-kata yang menggantung, atau kadang penuh emoticon. Aku gak ngerti
maksudnya. Coba senja jelaskan dengan kata-kata sederhana. Sesederhana aku
memberi pertanyaan ke kamu. Sesederhana aku meminta jawaban pasti iya atau
tidak. Itu sudah cukup menjawab segala pertanyaan yang menumpuk dalam relung
hatiku.
Sudah hentikan, senja kau hanya
membuatku menangis lebih kencang dari sebelumnya. Tahukah kau kalau segala
perhatianku padamu akan menjadi sia-sia karna semesta. Semesta dan senja akan
jadi rahasia terbesar yang akan sulit terdefinisikan dengan kata-kata. Kenapa
mesti ada semesta dalam hubungan aku dengan senja. Aku ingin mendorong semesta
ke jurang yang paling dalam. Dan akan aku hapus kata senja itu dalam setiap
bait sajakmu. Ganti saja dengan malam yang gelap dan pekat yang selalu ditemani
ribuan bintang berkelip manja dan bulan yang menyeburkan sinarnya lebih indah
dari pada jingganya senja. Tapi aku tak mampu melakukannya. Aku terlalu lemah
untuk menghapus ribuan kata senjamu dengan tangan kecilku. Aku tak terlalu kuat
untuk mendorong semesta yang berlindung di bawah sinar-sinar senja. Dan aku
memang harus menerima kekalahan ini.
TO BE CONTINUE~~~





