Hei,,, aku berkata kepadamu, langit kelam yang diselimuti
awan hitam. Aku bicara pada temaram lampu dan dinding yang dingin membeku.
Melihat apa reaksi mereka saat aku berteriak lantang dan menangis dalam
kesedihan mendalam. Tetap sama, hanya diam dan membisu. Tetap sama di posisi
yang tak mengerti apa-apa. Jadi terlihat bodoh, atau memang aku ditakdirkan
menjadi bodoh. Lalu teriakanku mulai meredup dengan isak tangis. Jatuh
membentur bumi hingga tak sadarkan diri. Ternyata kau jauh di atas langit dan
aku tak mampu menggapaimu. Aku hanya makhluk bumi yang menapak di tanah
sedangkan engkau tiitisan dewa langit yang tak mampu aku raih.
Tiba-tiba pikiran ku kalut menuju suatu titik yang tak mampu aku definisikan dengan warna warni surgawi. Titik yang menjadi pusat dari perasaan dalam hatiku. Titik itu kamu aktor gagal. Yah belakangan ini pikiran ku menuju pada dirimu. Apa kau tak merasa atau kau memang ingin membodohiku dengan jutaan naskah sandiwara yang telah kau ciptakan dengan tinta darahmu. Aku yang kau jadikan kelinci percobaan dan kau bisa tertawa puas di antara penderitaanku. Aku putus asa dan tak mampu menapakan diri di bumi. Aku masuk ke medan magnet dan tenggelam di lautan yang luas. Aku merasa telah jatuh terlalu dalam dan tak tahu kapan berakhir.
Aktor gagal mulai memainkan sandiwaranya. Ia tak lebih kuat dari sang penguasa hutan. Tapi jutaan naskahnya mampu melumpuhkan sistem saraf di otakmu. Ia tidak lebih hebat dari para jagoan holywood tapi hipnotis yang ia luncurkan mampu melumpuhkan sistem gerak dalam tubuhmu. Aktor gagal itu memang spesial. Walaupun penuh dengan bisa beracun. Aktor gagal mulai mencari celah kosong dari hati manusia. Dia datang bagai superhero yang turun dari langit dan menembus ke dalam relung jiwa. Aku berdecak kagum akan pesonanya. Hingga tak mampu berrpaling dengan yang lain. Tapi aku sadari kalau aku tak mampu bersanding dengannya. Aktor gagal pasti telah menemukan artis piguran yang tepat menjadi pendamping hidupnya. Sedangkan aku hanya kelinci percobaan yang terlalu bodoh dan rendah. Apa yang bisa aku andalkan dalam diriku. Pesona kecantikan saja tak bisa aku pancarkan dengan sempurna di retina matanya. ~~~~ To be Continue





Tidak ada komentar:
Posting Komentar