![]() |
| image: http://haidarholic.blogspot.com/2011/06/autumn-rhapsody.html |
Dedaunan jatuh terhempas angin musim gugur. Daun menguning kemerahan terlapis warna emas ketika terpantul kilauan cahaya mentari. Pagi ini masih sama, aku menuju sebuah bangku panjang di taman kota. Bangku tua dari pohon mahoni berlapis cat coklat yang kini tampak kusam. Menghabiskan waktu disana, hanya sekedar duduk menyendiri sambil sejenak membolak-balikan buku diari. Seperti biasa pula, aku memasang tampang tidak peduli dengan suara riuh orang yang berlalu lalang. Tak peduli dengan kicauan burung gereja di ujung-ujung ranting, tak peduli dengan sorak gembira anak-anak kecil bertopi bulat merah.
Entah kapan rasa itu menghilang dari diriku, dulu aku selalu peduli dengan semuanya hingga semua detail kecil tersimpan dengan aman dalam sensor otak. Kini, aku enyahkan semua itu hingga tak ada satupun yang menempel diotakku. Aku hanya berteman dengan sepi dan kesendirian. Merasakan mereka adalah tempat ternyaman untuk aku huni.
Hari ini berbeda, ketika langkahku terhenti dihadapan bangku panjang itu. Melihat ada yang janggal padanya, yah siapa lagi kalau dia si bangku panjang yang tega mengkhianatiku. Aku ternyata tidak sendirian menginginkan bangku tersebut, sehelai daun maple telah jatuh di sana. Tepat di ujung bangku, aku kira jaraknya sekitar 10 centi dari permukaan tanah dan hampir jatuh bila ada hembusan angin. Hal yang aku bisa lakukan hanya menggerutu dalam hati "Aku benar-benar sedang sial hari ini, bangku itupun telah direbut oleh sehelai daun maple". Aku tertunduk sejenak, hingga tiba-tiba seorang bapak dengan jaket abu-abu menyenggol bahuku.
"Maaf"
Apa yang aku perbuat, hanya diam. Bapak itu mengatakan sesuatu lagi padaku.
"Apa kau sakit nak?"
Apa yang aku perbuat, hanya diam. Dapat kulihat jelas dari sudut mataku, muka bapak itu tampak kebingungan. Tapi aku benar-benar tak peduli dengan dirinya.
"Ada sandwich, semoga kau suka nak"
Apa yang aku perbuat, masih sama sekitar 10 menit yang lalu hanya diam. Dan aku merasakan dia meraih tanganku memberikan sandwich yang terbungkus plastik bening. Dia berlalu dari hadapanku dengan wajah yang semakin tampak bingung. Aku masih terdiam dengan sebungkus sandwich yang 2 menit lagi akan jatuh dari tanganku. Bukk!!!
Aku hanya menunggu angin datang, menghempaskan daun maple itu. Tapi aku tak bersahabat dengan angin, dia tak kunjung datang menemuiku. Daun maple itu masih dengan sombongnya berada di ujung bangku panjang menghamburkan kilauan menguning yang ia miliki. Aku memandangnya dengan tatapan tak bersahabat. Aku marah padanya, yah marah dengan sehelai daun maple. Namun aku seolah tak punya tenaga untuk melawan sehelai daun maple. Aku hanya diam dan beranjak pergi dari bangku itu. Membalikan tubuhku, mengibarkan bendera putih kepadanya. Aku melangkah menjauhinya, sekitar 7 langkah dari bangku itu, ada suara asing memanggil namaku.
"Akasia"
Aku menghentikan langkahku, menunggu sejenak benarkah ada sosok yang memanggil namaku. Sosok yang suaranya nampak asing di telingaku.
"Akasia"
Yah.. sekali lagi namaku di panggil, sudah tak ragu lagi ada sosok lain yang memanggil namaku. Entah siapa orangnya, ingin sekali aku memarahinya karna suasana hatiku sedang tak karuan. Aku membalikan tubuhku, dan ternyata tak ada seorangpun di belakangku. Yang ada hanya sehelai daun maple tepat berada di bangku panjang itu. Aku terdiam kembali, menghela napas panjang namun bola mataku memburu kesegala arah.
"Aku disini"
Bola mataku terhenti sejenak, suara asing itu lagi dalam hati aku bertanya-tanya. "Hey siapakah dirimu?" Tapi aku ragu untuk mengucapkannya. Mulutku semakin terkatup rapat.
"Aku duduk manis di bangku yang selalu kau duduki setiap pagi, maukah kau temani aku?"
Tidak salah lagi, benar daun maple itu bicara padaku. Aku melangkah perlahan mendekatinya. Entah setan apa yang merasuk jiwaku, dengan beraninya aku mendekatinya.
"Aku ingin berbincang denganmu"
Aku terkejut dia benar-benar bisa bicara. Bukan melewati mulut, tapi entah kenapa suara itu bisa muncul dari sehelai daun maple. Aku akhirnya duduk disampingnya, ini pertama kalinya aku duduk tidak sendirian. Aku benar-benar bersama daun maple yang bisa bicara. Agak gila kedengarannya, tapi ini nyata akupun sesekali mencubit lenganku. Ahh.. sakit ini bukan mimpi.
"Kau tahu namaku dari mana"
Memandang jauh kearah depan, aku terlalu takut menatap daun maple itu.
"Sejak, aku merasakan fotosintesis"
Aku bingung mendengar jawabannya.
"Kau pasti bingung yah"
Dia ternyata bisa melihat raut mukaku yang tampak menunjukan kebingungan. Daun maple ini benar-benar ajaib.
"Hahaha,, aku lucu yah, semoga kau senang mengenalku"
Tidak ada yang lucu, kau bahkan hanya sehelai daun maple yang tak punya raut muka. Bagaimana aku bisa tertawa, kau telah merebut bangku kesayanganku.
"Akasia, kau masih marah padaku?"
Ajaib dia tahu apa yang aku pikirkan, tahu apa yang sedang aku bicarakan dalam hati.
"Aku memang ajaib, tersenyumlah untuku"
Beraninya, sudah merebut bangku kesayanganku sekarang ingin meminta senyumku. Kau benar-benar tak tahu malu.
"Aku rindu senyuman manismu"
Senyum, kata apa itu aku sudah lupa. Yang aku tahu hanya kata sedih.
"5 bulan aku tak melihat senyummu, aku rindu akasia. Kenapa kau tak mau tersenyum lagi"
Aku bosan! aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Padahal senyummu bisa membuat bidadari-bidadari surga cemburu melihatnya"
Surga.. tempat yang katanya menyenangkan itu, yang telah merebut Dammar dari hidupku.
"Aku cemburu dengan Dammar, dia bisa menikmati senyum manismu sepanjang hari. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan"
Kini kau bahagia, aku kehilangan senyum itu dan kau akan semakin menderita tak bisa memilikinya.
"Aku sedih, karna kau sedih sepanjang hari di bangku ini"
Kenapa kau sedih? kenapa kau peduli dengan hidupku?
"Aku senang saat kau senang. Kau bahagia saat bersama Dammar, itu membuatku semakin menghijau. Semakin aku dekat dengan sinar matahari. Kau tersenyum saat bersama Dammar, itu membuatku semakin menguning cantik. Dan kau sedih saat tak bersama Dammar, aku gugur jatuh disini"
Aku membuka tanganku yang menutupi wajahku, melihat perlahan ke hadapan daun maple. Kau kenal Dammar?
"Kenal, seperti dirimu mengenalnya. Dia sosok terindah yang kau miliki di muka bumi"
Sok tahu sekali, kau mengenalnya dari mana?
"Dari kamu, Akasia"
Aku, kapan aku berbicara denganmu.
"Setiap hari, setiap pagi sejak 5 bulan yang lalu, kau selalu menceritakan tentang Dammar. Aku senang mendengarnya. Kau bilang pertama kali bertemu dammar di bawah guguran daun maple. Kau jatuh cinta dengannya. Dammar sering menyelipkan surat cinta atau sekedar puisi romantis di buku tugasmu. Dammar memberikan cupcake yang diatasnya ada cerri merah kesukaanmu. Dammar yang memberikan ciuman pertama dalam hidupmu. Dammar yang kau tulis di buku harianmu. Dan kau selalu menceritakannya padaku"
Air mata menetes seketika, kau mendengar semuanya. Kau tidak sopan.
"Maaf, tapi aku hanya ingin tahu kenapa kau bersedih melenyapkan senyuman termanis yang kau miliki itu"
Karna Dammar telah mengambilnya dari hidupku.
"Bacakan bagian terakhir di buku harianmu, aku akan senang mendengarnya. Maukah kau membacakannya?"
Baiklah, aku akan membacakannya tapi dengan satu syarat.
"Akan aku penuhi syarat itu, dengan senang hati. Katakanlah?"
Aku akan membacakannya, dan setelah itu kau harus menyingkir dari bangku ini. Setuju?
"Bacakan saja, nanti kau akan mengetahuinya"
Bagian terakhir..
![]() |
| image: http://haidarholic.blogspot.com/2011/06/autumn-rhapsody.html |
Aku menoleh ke arah daun maple itu, seketika dia jatuh. Padahal tak ada hembusan angin yang menerpanya. Dia benar-benar ajaib. Jatuh ke tanah dan aku mengambil daun tersebut. Aku berbisik dan tersenyum kepadanya.
"Terima kasih telah mendengarkan aku selama ini"
![]() |
| image: http://of-red-and-gold.tumblr.com/ |







Aku bacanya anasia sih 😋😌😌
BalasHapus