CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Nyunyu

Rabu, 06 November 2013

UNTUK TEMAN DI SURGA

Gak sengaja menemukan tulisan yang terselip di buku bersampul kertas kado, dan ternyata itu sebuah cerpen yang aku tulis di bangku sekolah menengah atas. Dan rasanya aku ingin menuliskannya di blog yang random ini :)) 
selamat menikmati~~ secuil kata-kata yang mampu melumerkan hati kalian~~ hihihiii
Ku lihat langit biru yang nampak begitu jernih ditemani gerombolan awan putih, menggambarkan kehidupan manusia yang sulit dimengerti. Sinar mentari ikut menghangatkan suasana. Hari ini terasa begitu indah, rasanya sayang sekali bila terlewatkan tanpa keceriaan. Terlintas tanya dalam benakku. 
"Kenapa dia belum datang?" Hatiku menjadi gelisah. 
Gelisah, sebal dan kecewa menunggu dirinya. Harus berapa lama aku menunggumu.. menunggu dirimu?

Seorang laki-laki yang begitu aku kenal seiring waktu berjalan. Saat pertama kali ku lihat lesung pipinya yang terbingkai sempurna ketika dia tersenyum dengan bibir tebalnya, membuat semua kaum hawa yang melihat akan terpesona atau bahkan jatuh hati padanya. Dan dalam khayalan mereka, dia akan merangkulmu dan mereka akan merasakan aroma harum yang khas dari tubuhnya, Aroma yang begitu khas hingga aku tak mampu melupakannya. Tubuhnya yang tinggi seperti ingin melindungi kita dari tangan-tangan jahil. Diapun begitu humoris, membuat kita merasa nyaman di dekatnya. Sosok yang memang tidak sempurna tapi mampu menyempurnakan hidupmu. 

Seketika aku melirik jam dinding dikelasku. Jarum jam itu tepat berada di angka 07.15 wib. Ada sejuta tanya kembali dalam diriku. 
"Kenapa dia belum datang? Apa tama terlambat datang ke sekolah atau mungkin dia....?" 
Hanya gundah yang membebani pundaku. 
"Tama.. Kamu di mana?" 
Pagi ini kamu belum menyapa diriku, belum memberikan senyuman termanis yang kamu miliki. Diriku tertunduk lemah, ingin menangis namun air mata tak kunjung mengetuk kelopak mataku. Aku hanya mampu diam seribu bahasa. 

Bel Istirahat berbunyi, mengisi ruang-ruang kelas yang sibuk. Lorong kantin yang sunyi sepi, dalam hitungan detik riuh ramai terisi suara-suara cacing kelaparan. Aku sempat tak sadarkan diri, aku berada dalam sebuah dunia lain, sebuah dunia maya yang tak pernah aku jumpai. Aku tersentak kaget, terbangun meninggalkan dunia lain itu. 
"Put.. Putri. Kenapa sih?" Vina bertanya padaku
"Oh.. enggak ada apa-apa kok Vin" Aku tersenyum hambar padanya
"Tapi, dari tadi ngelamun aja. Lagi.. Mikirin.. Tama yah?" Vina mengejutkan aku. 
"Apa? Mikirin Tama, enggaklah. Tapi aku ngerasa ada hal yang gak enak gini, kayak ada hal yang ganjil aja" Aku memandang Vina dengan cemas. 
"Tama, pasti baik-baik aja. Jadi elo enggak usah khawatir gitu ah.. okei?"
"Iya.. semoga" 
Aku mengangguk lemah tak berdaya. Tetap saja ada perasaan ganjil yang rasanya semakin menjadi-jadi di hatiku. 

Tiba-tiba badai menghantam tubuhku. Aku mendengar kabar kalau Tama kecelakaan dan kini dia masuk rumah sakit. Bagai bom hiroshima yang meledak secepatnya aku berlari keluar kelas dengan perasaan yang tidak percaya, aku segera menelpon rumah Tama. 
"Halo.. assalamualaikum.. mbak apa Tama masuk rumah sakit?" 
"Waalaikumsalam.. iyah benar. Tama sejarang masih di ruang ICU, belum sadarkan diri, mohon doanya yah"
Image: http://angelreiki.tumblr.com/ 
Bagai petir menyambar aku, tetes air mata terpleset di pipiku. Tama apa maksud semua ini. Apa benar kamu separah itu hingga kamu tak sadarkan diri. Mulutku kaku tak mampu berkata-kata lagi. Kakiku lemah hingga sulit aku gerakan. Yang ada dalam pikiranku hanya ingin bertemu dengan Tama. Secepatnya aku ingin bertemu kamu. Secepatnya.. agar kamu, Tama yang menjelaskan semua ini, hanya kepadaku saja Tama... 

Cuaca pagi ini tampak mendung berselimut duka. Sama halnya seperti hatiku yang kusut, berterbangan di atas kepalaku. Hari ini aku ingin semuanya jelas. Aku mau bertemu dengan Tama. Iya.. Tama yang kini sedang berjuang melawan batas tipis antara hidup dan kematian. 

Debaran jantungku yang tak karuan membuat aku gugup. Aku melangkahkan kaki kecilku ke sebuah kamar. Aku buka sedikit pintu kamar itu. 
"Astagfirulah..." 
Tak terasa butir-butir air mata menetes di pipiku, sekarang detak jantungku semakin kencang. Lalu aku melangkah masuk ke kamar itu, terlintas tanya lagi dalam benakku. 
"Apa mungkin ini Tama?" 
Tama seorang yang aku kenal begitu humoris, yang kadang tak terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Namun kini, aku tak percaya, kamu begitu pucat, lemah dan tak berdaya. 
"Ya Allah.. kenapa cobaan ini Kau berikan pada Tama?" 
Aku memandangi wajah tama.. dalam.. semakin dalam tersimpan dalam kedua retinaku. Aku ingin sepuas mungkin melihat wajahnya, yah.. wajah yang manisnya masih tersirat jelas tak kurang sedikitpu. 

Tepat jam 8 malam, telepon rumah aku berdering. 
"Kring.. kring"
"Halo.. assalamualaikum" 
"Halo.. waalaikumsalam.. bisa bicara dengan putri" 
"Iya.. saya sendiri... Maaf ini siapa yah? 
"Putri.. saya Akhmad put. Maaf mengganggu"
"Iya, ada apa yah?" 
"Put.. " 
"Iya.. ada apa sih?" 
"Put.. Tama telah meninggalkan kita semua put, Tama meninggal dunia sore tadi" 
Suara itu seakan membelah dan menghancurkan hatiku. Seketika hempasan angin menerjang tubuhku. Aku sungguh tak percaya, kenapa begitu cepat. Kenapa kamu tak mengajak diriku agar aku bisa selalu tersenyum di dekatmu. Menceritakan kisah lucu agar semua kesedihan terhapus dari hidup kita. 
"Tama...." Air mata menetes ke bumi. 

Aku melihat wajahnnya yang pucat, matanya tertutup, tubuhnya kaku, tetapi aroma tubuhnya masih dalam aku kenali. Kata-kata nakal yang Tama ucapkan masih dapat aku dengarkan jelas di telingaku. Canda tawanya terus terputar dalam memori otakku. Bagai dua aliran sungai melukiskan pipiku, diselingi isakan tangis yang tak mampu aku tahan, membanjiri terus menerus, hingga akhirnya aku lelah menangis. 

Dalam hati keculku, aku sebenarnya belum bisa percaya dengan semua keadaan ini. Dia seakan hanya tertidur, tapi mengapa dia membisu, membisu kepadaku. Hingga tanah merah menimbun tubuhnya. Sedikit demi sedikit, dan akupun mulai menyadari bahwa Tama memang benar-benar telah pergi ke pangkuan Allah. 

Seakan mata sembabku tak mampu lagi menangis. Seakan ada yang terasa perih di dalam hati ini. Melati putih jatuh dari langit menyentuh tanah merah yang basah. Memberi aroma wangi surga.. yah.. "Hanya untuk Tama di surga"

"Ternyata kau pergi"
"Tuk selamanya" 
"Tinggalkan diriku"
"Dan cintaku" *1.BCL- saat kau pergi

Aku begitu menyesal, hari terakhir bersama Tama. Aku lalui dengan diam membisu kepadanya. Teringat saat Tama mencurahkan isi hatinya pada aku. Selalu aku mencoba membantunya, aku mencoba menyelinap dalam alur hidupnya. Kini Tama telah pergi.. Seandainya saja kamu hidup kembali, aku akan selalu membuat kamu bahagia, tak ada sedetikpun waktu untuk membuatmu bersedih. Tapi itu tak mungkin terjadi. Aku harus menerima takdir yang hampir membawa pergi separuh retakan hatiku. 

Bayangan Tama seketika melekat erat dalam talamus otakku. Aku tahu kenapa kamu masih menempel di sana. Aku tahu kamu takut aku lupakan. Tama tenang saja aku tak akan melupakan dirimu. Aku tak akan melupakan sosok sahabat termanis sepertimu. Karna aku tak akan dapat berjumpa dengan orang yang sama seperti dirimu lagi di dunia ini. 

"Apa kau melihat dan mendengar"
"Tangis kehilangan dariku"
"Baru saja ku ingin kau tahu"
"Perasaanku.. padamu" *1.BCL-Saat kau pergi

Kelas ini terasa sepi, bosan aku dengan sepi. Disini banyak kenangan tentang dirimu, sulit aku lupakan dan akhirnya aku kembali menangis.
"Aku capek, lelah dengan semua ini"
Aku mau ketemu kamu Tama.. 
Aku melihat sebuah kursi yang tepat berada di belakang kursiku. Jadi terbayang senyum manis Tama kembali, sebuah senyum yang terlempar hanya untuk aku. 
image: http://lii2piing-a22hole.tumblr.com 
Untuk teman di surga
Canda tawamu teman.. 
Senyum manismu.. 
Satu kata "menakjubkan" 
Titipan dari Tuhan 
Tama... 
Kini tak ada.. 
Aku ingin kamu ada
Di sini.. Hati semua orang 
Dan satu di Hati aku.. 
Untuk teman di surga 
Tenang dan baik-baik di sana
Menunggulah.. 
Kami akan berkunjung padamu
Menjalin kembali kisah manis
Yang tertunda oleh usiamu
Tama... 
"Tama..." 
Terima kasih telah membuat aku tersenyum. Terima kasih telah memberikan lembaran sempit untuk diriku dalam hidupmu. Aku yakin, kamu menunggu aku di sana, tempat yang tertutup gumpalan awan putih. Tapi sedikit raguku,, apakah nanti saat kita bertemu, kamu masih mengenal diriku? Salam untukmu dalam untaian doaku.. cinta dan kasih untuk temang di surga. 

Yup begitulah tulisan aku waktu zaman SMA.. hihihii cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata loh. Kisah dari teman aku yang kehilangan sosok laki-laki yang begitu ia kagumi. hemm.. Aku juga merasa kehilangan sosok itu.. tapi hidup itu memang selalu diiringi dengan kata "kematian" tinggal waktu saja yang berbicara bukan. Jadi,, Menabunglah kebaikan untuk bekal di akhirat~~ hihihii :)) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar